Karang Taruna: Antara Harapan Pemberdayaan dan Praktik Pembusukan Organisasi
Oleh: Astara Nawa Hàmmadi Karang Taruna selama ini sering dipuja sebagai simbol kebangkitan pemuda di tingkat akar rumput, namun realitasnya justru menunjukkan wajah yang jauh dari idealisme tersebut. Alih-alih menjadi motor perubahan sosial, banyak Karang Taruna hari ini hanya menjadi “organisasi papan nama” yang hidup segan mati tak mau. Kegiatan yang dilakukan cenderung repetitif, seremonial, dan miskin gagasan. Perayaan hari besar, lomba-lomba musiman, hingga agenda formalitas lainnya seakan menjadi rutinitas tanpa makna, sementara persoalan riil seperti pengangguran pemuda, kemiskinan, dan krisis moral di lingkungan sekitar justru dibiarkan tanpa solusi konkret. Ini bukan sekadar kegagalan program, melainkan kegagalan visi. Lebih parah lagi, Karang Taruna di banyak tempat telah kehilangan independensinya dan berubah menjadi alat kepentingan politik lokal. Tidak sedikit pengurus yang lebih sibuk menjaga kedekatan dengan kepala desa atau elite daerah daripada membangun g...