Postingan

Cakrawala Antara Aktor Kecerdasan dan Aktor Pengisi Lambung

Gambar
Oleh:  Rahmat Laki Singgia  (Pengurus P3A HMI KOM.HUKUM) Di dalam ruh Undang-Undang Dasar Tahun 1945, termaktub sebuah cita-cita luhur yang menjadi kompas perjalanan bangsa ini  "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa." Sebuah frasa yang bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah janji peradaban, bahwa pembelajaran adalah tiang penyangga kemajuan, dan guru adalah jiwa dari tiang itu sendiri. Guru bukan semata pengajar. Ia adalah penerang bagi anak-anak bumiputera yang tengah meraba jalan menuju masa depan. Namun di balik kemuliaan perannya, guru pun adalah manusia biasa yang membutuhkan rasa aman, sejahtera, dan dihargai. Memelihara guru bukan kemewahan itu bagian dari kewajiban negara. Disisi lain, konstitusi yang sama juga mengamanatkan tujuan "memajukan kesejahteraan umum." Dari semangat inilah lahir program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebuah ikhtiar mulia yang, sayangnya, dalam pelaksanaannya masih jauh dari standar yang seharusnya. Data dari BBC News Indonesia yang ber...

KETIKA PRINSIP DIJUAL MURAH : WAJAH ASLI BUDAYA PRAGMATISME POLITIK DI INDONESIA

Gambar
  Oleh : Zaely Putrawan  (Ketua IPNU PAC.KEDIRI) BUDAYA PRAGMATISME POLITIK         Budaya politik nasional kita terperosok dalam dekapan kapitalis birokrat yang lahir dari rahim-rahim pragmatisme tanpa martabat dan idealisme. Hal demikian justru membuat publik miris untuk berpikir tentang masa depan republik ini. Program kerja, janji manis, dan gagasan yang diucapkan ketika hendak menjadi wakil rakyat selalu saja diingkari setelah mereka duduk di birokrasi pemerintahan. Semua yang digambar-gemborkan dalam wajah kampanye, menjadi kata tanpa laku. Orientasi kebijakan mereka pun selalu saja berbeda jauh dengan apa yang telah diidealkan.          Keberadaan politisi dalam struktur pemerintahan dewasa ini cenderung selalu menempatkan diri di atas masyarakat. Mereka juga sering merasa lebih penting menjadi abdi negara dan kekuasaan, daripada menjadi pelayan atau abdi rakyat yang seharusnya Lebel itu mereka terima. Posisi birokrasi acap k...

Kematian Demokrasi Secara Perlahan Melalui Seribu Sayatan Kecil

Gambar
    Oleh: M. Yayan Gunawan Saputra  Ketua Umum HMI Komisariat Hukum Unram "Kematian demokrasi secara perlahan melalui seribu sayatan kecil" Demokrasi tidak selalu mati dengan dentuman meriam. Sering kali, ia mati dalam kesunyian ruang sidang, di balik jabat tangan koalisi yang gemuk, dan melalui regulasi yang disusun di tengah malam. Indonesia hari ini tidak sedang menghadapi musuh dari luar, melainkan sedang mengalami pembusukan dari dalam sebuah fenomena yang menyedihkan para ilmuwan politik menyebutkan sebagai "Autocratic Legalism"  penggunaan hukum untuk membunuh hukum itu sendiri. Sebuah Ilusi persatuan kematian oposisi Salah satu "sayatan" paling nyata dalam rezim Prabowo Subianto adalah pembentukan kabinet dengan jumlah personel yang sangat besar. Secara administratif, ini disebut efisiensi sektoral namun secara politik, ini adalah strategi kooptasi total. Sayatan pada Fungsi Pengawasan dengan merangkul hampir semua kekuatan politik ke dalam lingkar...

Kritik di Bungkam dengan Jawaban Air Keras

Gambar
Oleh:  Rahmat Laki Singgia (Pengurus HmI Kom. Hukum Unram) Indonesia adalah negara demokrasi yang secara substantif mulai benar-benar menganut sistem demokrasi yang stabil dan prosedural pada masa Reformasi (1998-sekarang). Demokrasi bukan sekadar sistem pemerintahan tetapi itu adalah fondasi konstitusional yang menjamin hak dan kebebasan seluruh rakyat. Di dalam sistem demokrasi, terdapat satu elemen yang tidak dapat dipisahkan, satu kalimat yang menjadi napas dari kebebasan itu sendiri ialah KRITIK. Zainal Arifin Mochtar salah satu Pakar Hukum Tata Negara Indonesia menjelaskan dalam pidato pengukuhan Guru Besarnya di Balai Senat UGM pada 15 Januari 2026 bahwa kritik diperlukan agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), dan negara tidak boleh alergi terhadap kritik. Dasar hukum kritik di Indonesia juga dijamin oleh UUD 1945 Pasal 28 dan 28E ayat (3) tentang kebebasan berpendapat. Namun, apa yang terjadi ketika kritik itu justru disambut dengan kekerasan? Pada Ka...

Krisis penegakan hukum di indonesia berkaca terhadap kasus Aparat Kepolisian (BRIMOB) di Tual Maluku

Gambar
Oleh: Rahmat Laki Singgia  (Kader HmI Kom. Hukum Unram) Kasus yang melibatkan anggota Brimob berinisial BMS di Tual, Maluku, menyisakan pertanyaan besar yang belum terjawab: apakah penanganan hukumnya berhenti pada sidang kode etik semata, atau berlanjut ke ranah pidana? Ini menyentuh prinsip paling mendasar dalam sistem hukum apakah hukum berlaku sama bagi semua orang, termasuk mereka yang berseragam. Sidang kode etik bersifat administratif dan internal, sehingga tidak bisa menggantikan peradilan pidana yang berorientasi pada keadilan bagi korban dan masyarakat luas. Mengacu pada pemikiran Prof. Dr. H. Zaenal Asikin, S.H., S.U. dalam buku Pengantar Ilmu Hukum edisi ke dua pada hal 77, Tujuan hukum yang ideal mengemban tiga nilai fundamental yaitu keadilan, kepastian, dan kebermanfaatan. Ketiga pilar ini ikut runtuh ketika pelaku hanya dijatuhi sanksi etik seperti keadilan yang terluka karena hukum menuntut pertanggungjawaban yang berbeda tergantung seragam yang dikenakan pelaku, b...

Konstitusi sebagai Pemersatu Bangsa: Meneguhkan Semangat Persatuan di Era Modern

Gambar
Oleh: Astara Nawa Hammadi akrab disapa "Baskara". Dalam momentum memperingati Hari Sumpah Pemuda, kita diingatkan kembali akan pentingnya menjaga dan merawat persatuan bangsa di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia. Sebagaimana substansi dari ikrar Sumpah Pemuda yang dikumandangkan oleh para pemuda dan pemudi bangsa pada tahun 1928, peristiwa itu menunjukkan bahwa dengan persatuan, penjajahan yang menindas bangsa selama lebih dari tiga setengah abad dapat dikalahkan melalui perjuangan yang terorganisasi dan dilandasi semangat kebangsaan. Namun demikian, kita juga perlu menyadari bahwa keragaman yang menjadi kekayaan bangsa sekaligus menyimpan potensi timbulnya perpecahan. Ketika ikatan sosial suatu bangsa mulai retak, maka kekuatan kolektif untuk menghadapi berbagai ancaman dan tantangan akan melemah. Oleh sebab itu, kesadaran akan potensi keretakan sosial harus senantiasa tumbuh dalam diri setiap warga negara, agar semangat menjaga dan merawat persatuan tidak ...

Bingung di Persimpangan Jalan

Gambar
  Oleh: Baskara Ahmaad Pagiku pahit, sepahit kopi yang kuseduh sendiri—tak semanis kopi milik tetangga. Setiap pagi aku terbangun disambut oleh kicauan burung, sekaligus beragam “kicauan” lainnya. Ada yang mampu menghadirkan semangat dan kebahagiaan, namun tak jarang pula yang membuat rapuh, seakan memupuskan harapan untuk hidup. Namun, apakah aku akan menyerah? Hidup memang sering kali tidak berjalan sesuai harapan dan keinginan. Terkadang penuh kepahitan, tantangan, serta kebingungan. Membandingkan diri dengan orang lain jelas bukanlah solusi, sebab setiap orang memiliki porsi dan tujuan hidup masing-masing. Tugas kita hanyalah terus melangkah dan mencoba, tanpa takut gagal. Bukankah kegagalan merupakan awal dari kesuksesan? Bukankah ia adalah bagian dari sebuah proses? Ingatlah masa kecil kita, ketika berusia 3–7 tahun. Saat itu, kita selalu berani mencoba banyak hal tanpa takut pada konsekuensi dan tanpa mengenal rasa gentar. Mengapa sekarang kita mudah goyah? Padahal cita-cita...