Bingung di Persimpangan Jalan

 


Oleh: Baskara Ahmaad


Pagiku pahit, sepahit kopi yang kuseduh sendiri—tak semanis kopi milik tetangga. Setiap pagi aku terbangun disambut oleh kicauan burung, sekaligus beragam “kicauan” lainnya. Ada yang mampu menghadirkan semangat dan kebahagiaan, namun tak jarang pula yang membuat rapuh, seakan memupuskan harapan untuk hidup.

Namun, apakah aku akan menyerah?


Hidup memang sering kali tidak berjalan sesuai harapan dan keinginan. Terkadang penuh kepahitan, tantangan, serta kebingungan. Membandingkan diri dengan orang lain jelas bukanlah solusi, sebab setiap orang memiliki porsi dan tujuan hidup masing-masing. Tugas kita hanyalah terus melangkah dan mencoba, tanpa takut gagal. Bukankah kegagalan merupakan awal dari kesuksesan? Bukankah ia adalah bagian dari sebuah proses?


Ingatlah masa kecil kita, ketika berusia 3–7 tahun. Saat itu, kita selalu berani mencoba banyak hal tanpa takut pada konsekuensi dan tanpa mengenal rasa gentar. Mengapa sekarang kita mudah goyah? Padahal cita-cita dan keinginan hanya dapat terwujud jika kita berani menjalaninya. Semua hanyalah soal waktu. Ingatlah: “Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya.”


Pilihan selalu ada di tangan kita. Apakah akan terus melangkah dan berusaha, atau hanya diam terpaku bingung di persimpangan jalan?


Sebagaimana perkataan sang maestro kata-kata dari Pringgabaya, Lombok Timur:

“Pahit bukan untuk dihindari, tetapi sebuah proses. Hadapilah, karena setiap pahit selalu menyiapkan manis di ujung perjalanan.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Krisis penegakan hukum di indonesia berkaca terhadap kasus Aparat Kepolisian (BRIMOB) di Tual Maluku

Pendidikan Inklusif! Peran pendidik dan pemerintah dalam menjawab tantangan ini.

Konstitusi sebagai Pemersatu Bangsa: Meneguhkan Semangat Persatuan di Era Modern