Cakrawala Antara Aktor Kecerdasan dan Aktor Pengisi Lambung
Oleh:
Rahmat Laki Singgia
(Pengurus P3A HMI KOM.HUKUM)
Di dalam ruh Undang-Undang Dasar Tahun 1945, termaktub sebuah cita-cita luhur yang menjadi kompas perjalanan bangsa ini "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa." Sebuah frasa yang bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah janji peradaban, bahwa pembelajaran adalah tiang penyangga kemajuan, dan guru adalah jiwa dari tiang itu sendiri.
Guru bukan semata pengajar. Ia adalah penerang bagi anak-anak bumiputera yang tengah meraba jalan menuju masa depan. Namun di balik kemuliaan perannya, guru pun adalah manusia biasa yang membutuhkan rasa aman, sejahtera, dan dihargai. Memelihara guru bukan kemewahan itu bagian dari kewajiban negara.
Disisi lain, konstitusi yang sama juga mengamanatkan tujuan "memajukan kesejahteraan umum." Dari semangat inilah lahir program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebuah ikhtiar mulia yang, sayangnya, dalam pelaksanaannya masih jauh dari standar yang seharusnya.
Data dari BBC News Indonesia yang berjudul Korban keracunan MBG sepanjang Januari 2026 tembus hampir 2.000 pelajar, mengapa masih saja terjadi?
ini sebuah realita yang menyayat sepanjang Januari 2026, Sebanyak 118 pelajar SMA Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada Rabu (28/01). Dari ratusan itu, 46 di antaranya harus menjalani rawat inap. Program yang dimaksudkan untuk merawat tubuh justru melukai mereka yang hendak dilindungi. Ini bukan sekadar kegagalan teknis tetapi ini adalah pertanyaan serius tentang tata kelola dan kesungguhan.
Yang lebih mengusik nurani adalah ironi yang terhampar di depan mata kita hari ini adalah aktor pengisi lambung diperlakukan lebih istimewa daripada aktor kecerdasan. Merujuk pada artikel nuonline yang berjudul “Ketimpangan Gaji Guru dan Pekerja MBG Disorot, Pemerintah Diminta Evaluasi Kebijakan” menjelaskan bahwa Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat, gaji guru di Jakarta saat ini berada pada kisaran Rp300 ribu hingga Rp2 juta per bulan. Angka tersebut dinilai timpang jika dibandingkan dengan gaji sopir MBG yang mencapai Rp3 juta per bulan atau sekitar Rp100 ribu per hari.
Fasilitas, anggaran, dan perhatian negara tampak lebih deras mengalir ke program pengisian lambung, sementara para guru yang memikul tanggung jawab membangun peradaban justru kian terdesak ke tepi. Bahkan pemangkasan anggaran pendidikan pun terjadi, seolah kecerdasan bangsa adalah pos yang bisa dikorbankan demi kepentingan yang lain. Bukan berarti program kesejahteraan pangan salah. Bukan itu persoalannya. Persoalannya adalah ketidakseimbangan ketika negara memilih-milih mana yang layak diutamakan, sementara keduanya adalah pilar yang seharusnya berdiri bersama. Di situlah cakrawala itu tercipta, jurang yang memisahkan aktor kecerdasan dari aktor pengisi lambung, dan jurang itu semakin hari semakin dalam.
Dalam buku Bintang Arasy, terdapat sebuah gagasan yang patut kita renungkan dalam-dalam ialah kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh letak geografis, keunggulan geologis, besarnya populasi, atau kecakapan birokrasi semata melainkan oleh kualitas pemimpin dan kualitas rakyatnya.
Jika kita jujur melihat kondisi negeri ini, pemimpin kita memiliki kapasitas yang tidak buruk setidaknya sebagian di antara mereka. Namun rakyat, yang seharusnya menjadi kekuatan sejati sebuah bangsa, masih tertinggal jauh dalam hal kualitas sumber daya manusia. Dan di sinilah justru letak paradoksnya, di saat masalah terbesar bangsa ini adalah ketertinggalan kualitas manusianya, jawaban yang diberikan adalah program pengisian lambung bukan penguatan kapasitas akal dan nalar.
Guru adalah jawaban atas masalah itu. Bukan dapur umum.
Maka izinkanlah satu pertanyaan ini menggantung di udara, untuk kita renungkan bersama.
Apakah negeri ini sengaja diarahkan untuk menjadi bangsa yang kenyang, namun miskin nalar bangsa yang terpuaskan lambungnya, tetapi tidak mampu memecahkan persoalan-persoalan besarnya sendiri?
Jika jawabannya tidak, maka sudah saatnya negara kembali berdiri di hadapan cermin dan memilih untuk sungguh-sungguh memuliakan mereka yang selama ini paling setia mendidik anak bangsa yaitu para guru.
Karena bangsa yang besar bukan dibangun dari perut yang kenyang saja, melainkan dari akal yang terang dan jiwa yang merdeka.

Komentar
Posting Komentar